Indonesia Mendukung Palestina Raih Kemerdekaan dari Israel, Ini Sejarahnya

Indonesia mendukung Palestina untuk menjadi negara berdaulat walaupun konflik antara Palestina dan Israel tidak kunjung berakhir.

Dukungan Indonesia ini sudah ada sejak zaman Bung Karno dan tidak lepas dari sejarah masa lalu antar dua negara.

Dukungan Palestina untuk kemerdekaan Indonesia di mulai sejak tahun 1944. Mufti besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dan saudagara kaya Muhammad Ali Taher menyatakan dukungannya, tulis M Zein Hassan dalam bukunya.

“Terimalah kekayaan saya semua untuk memenangkan perjuangan Indonesia” Kata Ali Taher di siaran radio tanggal 6 September 1944. Dukungan juga dilanjutkan dengan turunnya rakyat palestina ke jalanan.

Akhirnya Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan menjadi negara berdaulat, selanjutnya Indonesia mendukung Palestina untuk memerdekaan diri dari Israel.

Indonesia tidak mengakui proklamasi negara Israel pada 14 Mei 1948 oleh Ben-Gurion dan hubungan diplomat antara Indonesia dan Israel tidak pernah terjadi.

Bentuk dukungan lainnya adalah pada tahun 1957 dimana Indonesia menolak bermain melawan Israel baik di Jakarta maupun Tel Aviv jelang piala dunia. Indonesia hanya mau bermain di tempat netral tanpa lagu kebangsaan dua negara dan FIFA menolak dan Indonesia pun tidak bermain di Piala Dunia.

Dukungan lainnya adalah mengecam keras dan menolak aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Indonesia mengganggap ini ilegal dan bertentangan dengan hokum internasional. Kemenlu menilai aneksasi hanya akan memperpanjang konflik dan mengancam keamanan kawasan.

Indonesia menyambut baik deklarasi kemerdekaan Palestina pada 16 November 1988 dan setahun kemudian kedua negara menandatangani kerjasama diplomatik di tingkat kedutaan besar pada 19 Oktober 1989, penandatanganan dilakukan oleh Ali Alatas selaku Mentri Luar Negeri Republik Indonesia dan Pejabat Organinasi Pembebasan Palestina (PLO) Farouk Kaddoumi. Setelahnya Mentri Luar Negri Palestina menugaskan Kedutaan Besar Palestina di Jakarta. Setelahnya, Indonesia mengirim Kepala Misinya ke Republik Tunisia sebagai Duta Besar non-residen Palestina hingga 1 Juni 2004.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan Indonesia tetap mendukung Palestina untuk merdeka dan menjadi negara berdaulat dan mendukung perjuangan rakyat Palestina sewaktu konflik Gaza di tahun 2008-2009. “ Perang tidak seimbang terjadi antar Israel dan Hamas menyebabkan jumlah korban jiwa yang sangat banyak adalah tragedi kemanusiaan yang tidak terlupakan”. Indonesia merasa Dewan Keamanan PBB perlu membuat pertemuan formal agar Israel menhentikan agresinya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk bentrokan armada Gaza pada tanggal 31 Mei 2010 dan blokade Israel di Gaza adalah pelanggaran hukum internasional, serangan semacam itu akan menghambat kondisi untuk terciptanya perdamaian antara Palestina dan Israel.

Presiden Joko Widodo juga mengutuk serangan Israel pada tahun 2014.